Agama, Konflik, dan Kejahatan Kemanusian di Era Modernisasi


Indonesia merupakan negara multikultural yang terdiri dari beragam suku bangsa, etnis, agama dan bahasa. Dengan berbagai keragaman ini tentunya potensi terjadinya konflik menjadi sangat besar. Apalagi dengan kurangnya pemahaman terhadap nilai-nilai pancasila yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Ditambah lagi kondisi berbagai negara di dunia yang sedang dalam kondisi panas. Terutama negara-negara yang di huni oleh penduduk muslim. Indonesia dengan masyarakat yang berpenduduk tinggi dengan mayoritas beragama Islam maka menjadi sangat rawan dalam keterlibatan konflik yang terjadi di negara-negara timur tengah. Konflik yang terjadi ini timbul dari berbagai faktor seperti kondisi ekonomi, politik, agama dan sosial budaya. 

Tentunya dengan melihat kondisi tersebut Indonesia harus waspada terhadap kelompok-kelompok yang berusaha untuk menghancurkan negara Indonesia. Hal ini sangat mungkin terjadi dengan keaneragaman yang ada di Indonesia. Indonesia menjadi sangat rawan dalam konflik-konflik yang terjadi dalam skala regional atau transnasional. Terutama saat ini bahwa isu agama menjadi salah satu faktor dalam pembentukan konflik dalam masyarakat. Dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu dua tahun telah terjadi bentrok dan demontrasi yang mengatasnamakan agama. Kekerasan  baik fisik atau non fisik terjadi bersamaan dengan  konflik yang terjadi. Agama yang seharusnya menjadi pedoman untuk hidup aman dan nyaman saat ini dimanfaatkan untuk mendapatkan apa yang di inginkan. Hal ini tentunya menjadi paradoks terhadap agama itu sendiri. Bagaimana secara substansi agama menjadi petunjuk dalam hidup, agama sebagai sumber kedamaian dan keamanan. Namun, melihat realitas yang terjadi saat ini pemahaman yang salah dalam menyikapi sebuah masalah terkait dengan isu isu sosial yang dihubungkan dengan masalah agama menjadi sangat penting untuk di cermati. Hal ini dikarenakan hal tersebut menjadi sebuah ancaman terhadap kelangsungan hidup masyarakat di waktu mendatang.

Konflik memang selalu terjadi di dunia ini. Berbagai bentuk kejahatan dan kekerasan selalu mewarnai fenomena sosial dalam masyarakat. Konflik muncul dikarenakan adanya ketidakpuasan dalam diri manusia terhadap apa yang diinginkannya. Weber (Sanderson, 1995) menyatakan bahwa fenomena munculnya  konflik tidak hanya disebabkan oleh ketimpangan sumber daya ekonomi atau produksi. Weber menekankan bahwa konflik dapat terjadi dengan cara yang lebih luas dari hal tersebut. Weber membagi dua tipe dalam melihat sebuah konflik yaitu konflik dalam arena politik dan konflik dalam ide atau gagasan. Konflik dalam arena politik terjadi karena adanya perebutan kekuasaan antar individu atau kelompok untuk memperoleh kepentingan yang diinginkan. Konflik ini tidak hanya terjadi pada politik formal melainkan terjadi pada kelompok masyarakat, organisasi dan pendidikan. Konflik  inilah yang saat ini mengakibatkan jutaan manusia tewas. Salah satu contoh kasus adalah kasus yang terjadi di Syiria. Berdasarkan The Syirian Network For Human Rights (SNHR) dikatakan bahwa selama 6 tahun perang sebanyak 207 ribu orang telah menjadi korban jiwa dengan 24 ribu diantaranya anak anak. Kemungkinan angka ini akan terus bertambah dengan masih berlangsungnya konflik yang terjadi. 

Sedangkan konflik yang terjadi dalam arena ide atau gagasan berusaha untuk  memperoleh dominasi atas pemikiran dalam dirinya seperti doktrin agama, nilai budaya dan gaya hidup. Ide atau gagasan tersebut merasuk ke dalam pemikiran manusia yang nantinya menjadi sebuah pedoman untuk bertindak. Konflik ide atau gagasan ini akan lebih berbahaya apabila di munculkan dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Konflik ini terjadi dalam tataran ide yang tidak terlihat. Penyebaran ide tau gagasan ini biasanya terjadi melalui lembaga-lembaga seperti keagamaan dan pendidikan. Karena arus bergeraknya berada pada tingkat pemikiran maka munculnya terjadinya konflik ini sulit di ketahui. 

Perbedaan kepentingan di antara individu dalam masyarakat rentan memunculkan konflik. Menurut Soerjono Soekamto(1990) konflik dapat terjadi dari beberapa sebab seperti perbedaan antar individu, perbedaan kebudayaan, perbedaan kepentingan, dan perubahan sosial yang cepat. Tentunya dengan perkembangan zaman yang semakin cepat di tambah dengan meningkatnya penduduk di suatu kelompok atau negara membuat sebab-sebab tersebut menjadi semakin kompleks. Bermacam-macam sebab muncul dengan dorongan untuk mengikuti perkembangan zaman. Ketidakseimbangan ini mendorong munculnya gejolak dalam masyakat yang belum siap untuk menerima kenyataan.

Selain itu menurut Robertson(1998) konflik juga dapat ditimbulkan oleh agama. Agama sering di gunakan oleh kelompok tertentu untuk melegitimasi tindakan yang dilakukan. Banyak kasus yang telah terjadi dari konflik yang disebabkan oleh agama. Kasus tersebut seperti kasus ambon, poso,  Tolikora, Situbondo dan kasus-kasus yang lain. Agama memang menjadi salah satu isu yang sensitif di masyarakat. Agama menjadi keyakinan dan kepercayaan yang secara mutlak di akui kebenarannya. Sehingga dengan berbagai macam cara manusia berusaha untuk menjaga dan mempertahankan kesucian dari agama yang mereka anut. 

Sebenarnya agama bukan menjadi faktor utama dalam terjadinya sebuah konflik. Agama hanya menjadi faktor pendukung untuk melaksanakan konflik. Saat ini agama di negara-negara yang mayoritas Islam menjadi salah satu tempat yang rawan timbulnya konflik. Rasa kemanusiaan sudah tidak lagi diperhatikan kalau sudah membawa nama agama. Kelompok-kelompok tertentu berusaha untuk membela agama yang diyakininya. Sehingga melupakan hubungan sosial dengan manusia yang lain. Sebenarnya konflik karena agama ini terjadi karena adanya pemahaman yang kurang dalam penafsiran ajaran agama sehingga menimbulkan pemahaman yang sempit. Tentunya dengan hal ini dapat di sebut anarkisme agama tidak ada (Panggabean, R.1990-2008)

Terlepas dari agama yang sering dijadikan  untuk melegitimasi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok agama tertentu, agama menjadi salah satu pengatur dalam hidup setiap pengikutnya. Setiap agama memiliki ajaran-ajaran yang mendatangkan kedamaian dan keamanan dalam menjalani hidup. Agama menjadi faktor penting terciptanya keamanan dalam masyarakat. Menurut Bronislaw  Malinowski bahwa  agama berperan  memberikan peluang kepada manusia bahwa ada sumber kekuatan dan harapan yang lebih besar dari yang dimiliki oleh manusia sendiri. Agama menjadi harapan bagi manusia untuk meraih kebahagiaan mendatang.  Menurut Brow agama juga memiliki fungsi untuk mencegah perilaku menyimpang, fungsi control dan pengendali masyarakat. Sedangkan menurut  Thomas O`dea agama menjadi alat pengesahan, penguat dan pemberi legitimasi, mensucikan nilai dan norma masyarakat yang telah mapan dan membantu mengendalikan ketenteraman, ketertiban dan stabilitas masyarakat. Tentunya agama memiliki peran yang besar dalam konflik dan kejahatan yang terjadi. Perlunya pemahaman dan aktualisasi diri terhadap ajaran agama menjadi penting. Penyikapan terhadap perkembangan zaman yang semakin modern menjadi perhatian manusia untuk tetap memberikan rasa aman dan damai kepada sesamanya. 

Biografi penulis

Alfin Muakip. Saat ini sedang menjalankan studi S1 di Universitas Indonesia yang berusaha mengimplementasikan tridharma perguruan tinggi negeri dengan mengabdi di bidang pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DomaiNesia
Share via
Copy link
Powered by Social Snap