harianwonosobo.com

TEMBAKAU SRINTIL LERENG SUMBING, TEMBAKAU TERBAIK DAN TERMAHAL DI DUNIA


Jakarta (19-12-2015). Acara “Indonesia Mengingat” di TVOne menampilkan judul “Mbako”. Dikisahkan, pada mulanya tembakau di Lereng Sumbing didatangkan Bibitnya dari Kalibeber, Lereng Sindoro dan Lereng Gunung Prahu di Wonosobo. Wilayah lereng sumbing adalah salah satu wilayah penghasil tembakau terbaik di Dunia. 

Susunannya batuan berselang seling dengan bahan dasar andesit hasil letusan gunung api dengan material letusan berbagai ukuran, membuat menjadi sangat subur. Material yang keluar dari gunung api menjadi lapuk dan tidak stabil. Namun perlu waktu untuk menanami, untuk muncul 1 meter tanah muncul antara 200-400 tahun. 

Tahun 1878-1879 terdapat 872 di ekspor ke Singapura. Di Lereng Gunung Sumbing pada ketinggian sekitar 2000 meter dari permukaan laut. Upah 35 ribu – 40 ribu perhari. Sejak 1972 sudah bekerja di lokasi sekitar Tembakau. Dia ikut mencangkul, juga memanen. Tahun 1903, ekspor tembakau menjadi 160000 Bal dalam setahun. Tahun 1920, rokok putih, tidak kurang dari 1 Milyar batang tiap tahunnya masuk ke Indonesia. Jumlah terus meningkat BAT (British American Tobacco) membangun Pabrik di Cirebon dan Surabaya. 

Tahun ini tidak panen tembakau srintil, tanem udane cukup, angger is mongso panen, udane kudu cerah. Ono mingsrine, nek coro ilmiahe mungkin nicotine oke. Sebelum zaman resesi, waktu semen belum 1000 ruapiah, persak Srintil sudah 60 ribu. Tahun 1980 sampai 1982, Cuaca bagus. Tahun 1985 kurang bagus. Tahun 1992 hampir seperti ini. Setelah tahun 2002 sampai sekarang bisa sampai 200-250 ribu, kecuali tahun 2005. Menanam sampai sekarang, menanam saja susah. 

Kretek

Kretek berbeda dengan rokok. Kretek dicampur dengan saus yakni campuran tembakau dan cengkeh. Kretek istilah dari bunyi kretek ketika dihisap. Haji jamali adalah orang yang pertama menggunakan produk kretek untuk mengobati sakit didadanya. Berkat khasiatnya yang diangga mujarab, maka menjadi sangat popular di Kudus.

Nama Kodok Makan Ular adalah produk kretek pertama Nitisemito. Karena tidak laku kemudian diganti Bal Telu. Karena instink bisnisnya, banyak upaya dilakukan untuk memasarkan rokonya hingga Batavia dan Mancanegara. Merk ini merajai pasar di Pulau Jawa bahkan hingga ke Singapura.

Ahmad Munir, Kedoe Institute menyampaikan pendapatnya bahwa Petani adalah pihak yang bekerja sama untuk perusahaan, ini tidak jauh berbeda sistemnya dengan pada masa kolonial, namun jauh lebih baik, karena petani sendiri yang merencanakan untuk menanam. Sepenuhnya hasil tembakau adalah hak rakyat, atas pilihan rakyat sendiri. Larangan menanam tembakau tentu akan banyak berdampak pada ekonomi masyarakat, yang tidak bisa dipulihkan dengan mudah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *