harianwonosobo.com

RAHASIA DI BALIK TAMPILAN KALEM KH. MAKRUF AMIN (Sebuah Analisis, Aliansi Nasional Santri)



Debat pertama pilpres telah usai. Analisis, diskusi, tulisan, meme, dan framing muncul seketika. Ada yang obyektif, berupaya obyektif, pura-pura obyektif, hingga cacian sangat kasar kita temukan di lini masa.

Meme memuji atau menyindir berseliweran tanpa henti. Puja puji dan caci maki, dengan gambar dan tulisan, yang jika gunakan akal sehat, tak pantas dilakukan. Oleh orang awam sekalipun. Terlebih diproduksi dan disebarkan oleh cerdik cendekia.

Yang paling banyak jadi korban meme adalah Kyai Ma’ruf Amin, dengan segala framing-nya, yang membuat opini seolah tak kuasa apa-apa, kecuali doa.

Mereka lupa, bahwa sosok Kyai Ma’ruf adalah aktif di dunia politik sejak muda. Urusan politik bagi beliau adalah dunianya. Di partai, beliau menjabat pimpinan tertinggi saat PKB jadi jadi partai terbesar produk reformasi. Beliau juga jadi pimpinan komisi. Jauh-jauh hari, beliau jadi pimpinan fraksi di DPRD DKI Jakarta. Saat Gubernur DKI dijabat Ali Sadikin, beliau terlibat jual beli gagasan untuk berbagai kebijakan pembangunan DKI, khususnya terkait dengan isu agama.

Dari sisi akademik, beliau doktor dan guru besar di bidang hukum ekonomi syariah. Rekognisi dan pengakuan akademik diperoleh dari lembaga yang punya reputasi. Belum lagi lihat track record sosial kemasyarakatannya.

Soal debat? Jangan ditanya. Beliau tumbuh di lingkungan pesantren Jadi, debat bagi Kyai Makruf bukan hal baru. Politik bagi beliau adalah habitat lama.

Posistioning

Banyak orang tertipu dengan kesan pasifnya Kyai Ma’ruf. Padahal, dari awal Kyai Makruf memahami positioning beliau sebagai Calon Wakil Presiden. Tugas utama adalah membantu proses Presiden. Itulah sisi kenegarawanan dan sisi keulamaan Kyai Ma’ruf masuk. Politik Ulama, bukan Ulama Politik.

Wapres Mendukung Kebijakan Presiden

Beliau seringkali sampaikan, salah satu akar masalah bangsa adalah karena semua merasa bisa, tapi tak bisa merasa. Semua pingin mengerjakan apa saja, tanpa melihat di mana dan sebagai apa dia berposisi.

Dengan statemen sederhana Kyai “Cukup. Saya akan mendukung kebijakan Pak Jokowi” adalah cermin komitmen dwitunggal, dan “hasbal maqam“, sesuai posisi. Tahu tentang apa yang dibicarakan. Karena visi pemerintahan ke depan adalah visi bersama, bukan masing-masing capres dan cawapres. Apa jadinya kalau saling salip. Statemen pendek Kyai Ma’ruf menunjukkan kelas kenegarawanan sekaligus keulamaan. “Khairul Kalami Qalla wa Dalla“, sebaik-baik statemen, itu pendek dan fokus. Itu adalah kepiawaian Kyai.

Penanganan Terorisme

Dalam merespons isu terorisme, lagi-lagi Kyai Ma’ruf menjawab pendek. Namun, langsung mengena dan solusi. Beliau bicara konkret dan sangat memahami masalah terorisme.

Beliau menjelaskan ada dua pendekatan, kontraradikalisme dan deradikalisasi. Kalau disebabkan faktor ekonomi, maka pendekatannya adalah pemberian lapangan kerja agar para teroris mendapatkan pekerjaan dan nafkah yang layak. Kedua, jika penyebabnya adalah paham agama yang menyimpang, maka diskusinya adalah mengembalikan pemahaman keagamaan yang menyimpang ke jalan yang lurus, atau ar-ruju’ ilal haqq.

Jawaban pendek tapi sangat substantif, bernas, dan mengenai, straight to the point. Jawaban ini muncul dari kedalaman ilmu dan pengalaman panjang. Beliau, saat di MUI membahas dan menetapkan fatwa soal terorisme. Tidak hanya itu, terlibat aktif dalam penanggulangan terorisme bersama Kantor Wakil Presiden sejak bertahun-tahun. Beliau juga membentuk badan khusus di MUI yang bertugas melakukan pencegahan terorisme dengan pendekatan agama.

Disabilitas

Isu soal disabilitas, lagi2 Kyai Makruf menjawab pendek, tapi mengena jantung persoalan. “Perlu membangun kesadaran publik akan pentingnya penghargaan pada disabilitas”.

Dahsyat. Itulah pangkal masalah diskriminasi yang terjadi selama ini. Paralel dengan pendekatan struktural, dengan regulasi dan penyediaan infrastruktur ramah disabilitas n kesetaraan kesempatan di berbagai bidang, yang juga harus dilakukan adalah membangun public awarness.

Kyai Ma’ruf tidak mengulang jawaban yang sudah dipaparkan Jokowi, tapi menambah poin penting. Pasangan yang saling mengisi. Tak banyak basa basi dengan untaian kata2 tak bermakna.

Kalimat-kalimat Kyai Ma’ruf Amin, pendek tetapi berisi, penuh substnsi khas kyai. Tetapi, dalam kalimat pendeknya sangat bernas, solutif, empiris, dan kontekstual, khas negarawan senior yang kenyang pengalaman.

Selebihnya, Kyai tampil paling kalem sekaligus benar2 sebagai representasi Ulama. Tokoh agama yang memiliki kapasitas dalam menjawab persoalan dengan berbagai track record di bidang politik, pendidikan, ekonomi sosial, budaya dan kemasyarakatan, yang sudah puluhan tahun malang melintang di jagat perpolitikan: tapi sangat santun, wise, dan penuh hikmah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *