harianwonosobo.com

POTENSI PENGEMBANGAN WISATA JALUR ALTERNATIF DIENG (MELALUI GARUNG – MENJER – MLANDI – CURUG SIKARIM)


Jalur wisata adalah lokasi yang akan menerima dampak langsung dari aktivitas wisata. Jalur menuju wisata Dieng semula fokus diarahkan melalui jalur utama (Wonosobo – Garung – Kejajar – Dieng). Namun saat ini, sudah ada jalur alternatif (Wonosobo – Garung – PLTA – Menjer – Mlandi – Curug Sikarim – Sembungan – Dieng).

Pembangunan jalur alternatif telah disadari sebagai antisipasi dari dampak kejadian longsor, yang menimpa lereng 15 persen di Desa Tieng, Kecamatan Kejajar. Jalur ini tidak bisa tergerak apabila satu bagian dari segmen jalan mengalami hambatan, baik longsor, kendaraan rusak, atau kemacetan karena factor lainnya. Oleh karena itu, jalur alternative menjadi lokus utama, untuk memastikan sector wisata tidak terganggu.

Kelebihan dari jalur alternatif menuju Dieng adalah keunggulan daya taris alamnya. Jalur ini melewati Kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Garung, Kawasan pertanian, dan Hutan Lindung Kedu Utara di Pegunungan Dieng. 

Kondisi sosial masyarakat di jalur alternatif ini jauh lebih terbuka. Masyarakat yang tinggal di sepanjang jalur ini mayoritas bermata pencaharian petani dan buruh tani, dengan tradisi dan kultur masyarakat yang sangat religius. Mayoritas penduduk beragama Islam dengan kecenderungan pada afiliasi organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. 

Ahmad Munir, Kedoe Institute meyakini pengembangan jalur wisata Curug Sikarim sampai dengan Dieng, jika diselesaikan akan membawa dampak positif pada sector pariwisata di Wonosobo. Jalur ini masih sangat indah dan eksotik. Pemandangan alamnya tentu mempesona para wisatawan. Namun, perlu diperhatikan pula, bahwa zonasi wilayah ini umumnya berupa hutan lindung. Tentu harus tetap dijaga dan dipelihara, jangan sampai pengembangan wisata mengorbankan sektor lingkungan. Sehingga, konsep pengembangan ekonomi yang harus dikembangkan juga ekonomi berwawasan lingkungan. Prinsip utamanya menurut Munir adalah mengurangi alih fungsi lahan secara sporadis, alih fungsi lahan perlu untuk pemenuhan berbagai kebutuhan penginapan dan area wisata, namun seperlunya saja. Tidak perlu dieksploitasi berlebihan. Lebih penting dari itu, menurut Munir adalah menjaga hak dan kepemilikan lahan bagi warga local. Kehadiran investor dari luar sebaiknya tidak membeli hak milik, akan tetapi hak guna saja. Sehingga aset masyarakat tetap terjaga untuk kelangsungan ekonomi anak cucu nantinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *