harianwonosobo.com

Proporsi Beragama Dalam Bernegara

Oleh: Khusin, Alumni UGM

Spirit Toleransi Sudah Ada Sejak Abad ke-14

Secara formatif alasan negara Indonesia terbentuk adalah kesamaan nasib seperjuangan dalam upaya melawan tindakan kolonial VOC dan kependudukan Jepang. Bahwa pengambil-alihan kekuasanaan melalui proses yang tidak mudah. Perjuangan rakyat berkobar disegala penjuru nusantara untuk mengusir keserakahan VOC dan kependudukan Jepang. Perjuangan ini setidaknya mencapai titik terang setelah pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta mendeklarasikan Indonesia menjadi negara independen yang akan menentukan arahnya sendiri.

Namun jauh sebelum itu, konsep kebangsaan atas dasar kesamaan nasib seperjuangan tidak hanya terbentuk pada masa kolonial. Konsep kebangsaan yang dimiliki oleh Indonesia telah terumuskan dalam
spirit toleransi pada abad ke-14. Konsep toleransi antar umat beragama tercantum dalam Kakawin Sutasoma, sebuah kitab sastra suci beraksara Jawa kuno karangan Mpu Tantular. “Kakawin ini menjadi semakin terkenal setelah sebagian dari bait kakawin ini menjadi motto nasional Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika (Bab 139.5). Kitab ini merupakan hasil kesusastraan yang melegenda ditulis pada masa keemasan kerajaan Majapahit. Amanat kitab ini mengajarkan toleransi antar agama, terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha”. (Dinas Pendidikan Bali, 1993).

Bahwa secara historis keberadaan bangsa di nusantara telah melahirkan semangat toleransi dan sebaliknya semangat toleransi antar umat beragama telah membentuk karakter bangsa. Bahkan semangat toleransi menjadi alasan utama secara normatif terbentuknya bangsa Indonesia.

Perkembangan Islam dan Kenegaraan

Masuknya agama islam ke Indonesia tidak semerta-merta diterima begitu saja oleh masyarakat saat itu. Kerajaan-kerajaan di nusantara bercorak agama hindu – budha serta beberapa jenis kepercayaan masyarakat lainnya telah mengakar-kuat dan membentuk sistem tatanan sosial keagamaan yang kuat. Proses perkembangan agama islam di nusantara terjadi melalui proses yang panjang dengan berbagai dinamika sosial, ekonomi serta budaya. Hingga agama islam kemudian berkembang pesat setelah melalui akulturasi budaya sampai saat ini, islam menjadi agama dengan pemeluk terbanyak di Indonesia.

Selanjutnya dalam proses perjalanan berbangsa dan bernegara, tidak pernah luput dari isu-isu agama. Kondisi dimana Indonesia mayoritas penduduknya beragama islam, gagasan yang muncul menggunakan konsep keislaman pernah di usulkan menjadi dasar negara. Isu- isu mengatasnamakan agama terus bergulir hingga sampai saat ini. Diperparah dengan masuk ajaran islam radikal yang dibawa dari kondisi di timur tengah. Dalam beberapa even demokrasi seperti pemilu, pemanfaatan isu agama menjadi isu politik dan ramai diperdebatkan.

Dalam perspektif ini, mereka yang menyuarakan isu- isu agama mempunyai pembenaran secara personal maupun komunitas bahwa islam itu mayoritas, penganut islam terbanyak secara kuantitas. Ditambah paham islam radikal yang ingin mengambil alih pola tananan dasar berbangsa melalui pergerakan masa dan pemikiran yang ekstrim dan fanatik sempit. Namun menurut saya hal itu kurang santun jika diutarakan dengan cara yang tidak baik apalagi melemahkan salah satu pihak. Paksaan untuk menuruti suatu ajaran akan cenderung menjadi tindakan yang arogan dan tidak santun.

Padahal spirit islam yang sebenarnya adalah tidak ngajarkan paksaan kehendak namun lebih kepada ajaran mengajak dengan kesantunan. Kegagalan membawa nama baik islam oleh penganut islam radikal menimbulkan sentimen negatif bagi pemeluk non islam.

Nampaknya tidak diperlukan lagi, menampakkan identitas agama secara frontal seperti dengan mengganti sistem dasar negara khilafah. Ibaratnya, yang esensi itu bukan dari cara berpakaian dari luar akan tetapi bagaimana ia memakai pakaian islam didalam hati. Konsep inilah yang gagal dipahami oleh penganut islam radikal.

Seperti yang telah dicontohkan oleh para pendiri bangsa serta konsep bernegara secara historis didalam kesastraan Kakawin Sutasoma. Bangsa Indonesia tanpapun dicari perbedaan, memang sudah berbeda sejak dulu. Maka dari itu spirit toleransi, aspirasi yang santun, kebesaran hati yang luas akan melahirkan kebersamaan dan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara demi terjaganya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *