harianwonosobo.com

Gus Dur Dan Papua, Sebuah Pendewasaan Berbangsa

Oleh : Khusin,  Alumni PMII Komisariat UGM

“Mata saya memang tidak bisa melihat, tapi hati saya bisa merasakan air mata dan penderitaan orang Papua, maka dari itu wahai orang Papua, hari ini ku kembalikan harga dirimu sebagai bagian utuh dari Negara Kesatuan Republik Indonesia” Gus Dur.

Papua kembali bergejolak setelah serangkaian isu-isu rasis terangkat kepermukaan. Berawal dari konflik vertikal bernada rasis di Surabaya hingga menyebar luas di beberapa daerah termasuk Papua. Isu –isu bertajuk rasis memang sesuatu yang tabu untuk dipermasalahkan karena isu demikian sama saja kita mendestruksi keberagaman. Apalagi teruntuk Papua memang banyak kasus yang belum tuntas seperti kasus pelanggaran HAM hingga kasus rasial kembali muncul seolah seperti kekecewaan yang meledak setelah terakumulasi selama ini.

Tentunya jika dikaji secara komprehensif, akan banyak sekali faktor yang menyebabkan konflik di Papua. Namun saya hanya membahas dari sisi antropologi dan sosial. Bahwa secara antropologi, karakteristik masyarakat Papua cenderung mempunyai perasaan rendah diri (Inferiority complex) jika disandingkan dengan suku dan kebudayaan lain. Terlebih pendekatan pemerintah pada jaman orde baru masih banyak menyisakan perkerjaan rumah hingga sekarang. Sebagai contoh banyak aktivis yang menentang operasi Koteka pada  tahun 1971-1973 pada suku Dani yang mengandung unsur strategi mempermalukan (humiliation  strategy). Alibi pemerintah saat itu adalah atas nama pembangunan dan peradaban lebih maju, namun sayangnya tidak disertai dengan aspek keberimbangan terhadap budaya-budaya tradisional lokal.

Permasalahan masyarakat Papua secara sosial yang paling mendasar adalah  rendahnya tingkat modal sosial. Modal sosial merupakan metode dalam berkomunikasi dan bersosialisasi yang memegang  peranan  penting  sebagai  “perekat”  antar elemen dan komuninatas pada masyarakat. Sikap yang masih membanggakan etnis dan suku di Papua sebagai komunitas utama dalam prioritas sosial mereka, menyebabkan sulitnya komunikasi antar suku.  Kondisi ini menyebabkan nilai dan norma kerja sama dalam pengelolaan interaksi antar suku tidak kuat bahkan mungkin belum terbentuk secara baik.

Belajar Bernegara dari Gus Dur

Atas semua konflik yang begitu pelik dan belum kunjung selesai hingga sekarang, kita perlu belajar metode pendekatan dalam menyelesaikan kasus si Papua. Melihat masyarakat Papua yang cenderung merasa rendah diri (Inferiority complex) dan tingkat modal sosial antar suku yang masih rendah. Penyelesain dengan gaya pendekatan kemanusiaan oleh Gus Dur ternyata cukup efektif. Pendekatan Gus Dur mengedepankan spirit toleransi yang secara frontal dan formal mengakui eksistensi mereka sebagai sesama anak bangsa. Beliau mengambil sikap yang berani dengan mengijinkan pengibaran bendera Bintang Kejora sebagai lambang suku dan etnis mereka. Salah satu pernyataan sakti beliu yang begitu fenomenal hingga membekas di hati rakyat Papua ;

“Mata saya memang tidak bisa melihat, tapi hati saya bisa merasakan air mata dan penderitaan orang Papua, maka dari itu wahai orang Papua, hari ini ku kembalikan harga dirimu sebagai bagian utuh dari Negara Kesatuan Republik Indonesia” Gus Dur.

Sosok Gus Dur dalam memperjuangkan kepentingan bangsa begitu tulus dan tanpa tendensi politik apapun. Ibarat seorang ayah yang berusaha memenuhi keinginan anaknya asalkan demi kebaikan bersama. Perubahan nama Irian Jaya menjadi Papua pun mempunyai konsep dan filosofi. Filosofi jawa mengatakan bahwa anak yang sakit-sakitan harus diganti namanya agar menjadi ‘Slamet’. Meski banyak pertentangan dari berbagai pihak karena mereka tidak bisa memahami spirit Gus Dur, namun nyatanya konflik Papua mereda secara signifikan. Salah satu pernyataan tentang ketegasan dan ketulusan beliau dalam memperjaungkan kesatuan NKRI di Papua adalah ;

“saya tidak peduli mau popularitas saya hancur, difitnah, dicaci maki atau dituduh apapun, tapi bangsa dan negara ini harus diselamatkan dari perpecahan” Gus Dur.

Secara tidak langsung, Gus Dur memberi teladan kepada kita bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus mengedepankan spirit toleransi. Semua suku, etnis dan budaya yang ada di Indonesia adalah sama, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Karena keberadaan mereka adalah bagian dari kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *