harianwonosobo.com

Diskursus Perbedaan Dialek dan Aksen Pedesaan di Wonosobo

Bahasa jawa merupakan bahasa ibu yang digunakan oleh masyarakat di pulau jawa khususnya suku jawa. Bahasa jawa sendiri dibagi menjadi 2 kelompok besar berdasarkan demografi dan dialeknya yakni bahasa jawa banyumasan yang sering dikenal dengan dialek ke-inyong-an dan bahasa jawa ke-aku-an. Secara historis perubahan gaya bahasa jawa ini dipengaruhi oleh kondisi sosial, agama dan politik. Di Wonosobo sendiri bahasa jawa yang digunakan menggunakan kata ganti orang pertama adalah “nyong” atau “inyong” sehingga termasuk kategori bahasa jawa banyumasan.

Berdasarkan studi kasus dilapangan, terdapat keunikan tersendiri terkait dengan penggunaan bahasa jawa oleh masyarakat pedesaan yang terdapat di pegunungan Wonosobo. Keunikan tersebut antara lain adanya perbedaaan dialek, aksen dan logat tiap- tiap desa. Perbedaan gaya bahasa ini bahkan bisa untuk mengetahui indentitas asal orang yang mengucapkan. Dalam kehidupan sosial masyarakat antar desa terkadang hal -hal seperti itu menjadi bahan candaan.

Keunikan-keunikan tersebut, membuat saya ingin mengetahui pengaruh persebaran penduduk dan kondisi sosial ekonomi masyarakar pedesaan di pegunungan Wonosobo. Secara teori memang menyebutkan ada beberapa jenis pola persebaran penduduk. Salah satunya pola demografi persebaran penduduk desa dipegunungan adalah cenderung mengumpul dan membentuk kelompok perumahan secara bergerombol. Persebaran penduduk secara mengelompok di pegunungan disebabkan kondisi alam dipegunungan yang cenderung dingin.  Dengan adanya persebaran yang penduduk yang mengelompok dan berhimpitan akan memberikan nuansa ‘hangat’. Perilaku ini dipelajari dalam bidang studi antropologi terkait dengan pengaruh demografi berdasarkan letak topologi geografis.

Aspek yang kedua adalah berdasarkan kondisi sosial ekonomi. Kondisi ekonomi mayoritas masyarakat desa di pegunungan menggantungkan mata pencaharian mereka sebagai petani. Pola rutinitas keseharian petani cenderung dalam lingkup yang terbatas, mulai dari rumah ke ladang dan kembali lagi ke rumah. Pola rutinitas tersebut membatasi mereka untuk berkomunikasi, berinteraksi dan bersosialisasi dengan desa lain. Dengan kondisi itu yang terjadi dalam kurun waktu lama, mengakibatkan pembentukan “budaya lokal desa”. Budaya lokal desa bisa berupa budaya nilai dan norma yang berlaku, termasuk penggunaan gaya bahasa, aksen, dialek dan logat.  

Pola umum manusia adalah penyesuaian sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi dan lokasi topologi secara geografis. Kondisi kondisi alam membentuk suatu ke khas-an budaya manusia sebagai bentuk kebiasaan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Harapannya adalah ada kajian secara komprehensif di dalam bisa studi linguistik mengingat semakin menurunnya penutur bahasa ibu kuno di Jawa. Studi kasus di pedesaan yang terletak di Wonosobo termasuk mengandung gaya bahasa ibu berbahasa jawa dengan tingkat kemajemukan yang tinggi. Hal itulah perlunya studi lebih lanjut agar kekayaan budaya lokal dapat terdokumentasikan sebagai warisan sejarah pengetahuan bagi generasi yang akan datang. (Khusin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *