harianwonosobo.com

“Gobetman” Kisah Dibalik Musim Tembakau Di Wonosobo

Mendekati akhir musim panen tembakau di wilayah Wonosobo dan sekitarnya, banyak dijumpai tanaman musiman yang berduan lebar ini hanya tinggal batang yang berdiri tegak di ladang-ladang milik petani. Daun-daun tembakau sudah banyak yang dipanen bahkan diolah lebih lanjut menjadi produk setangah matang. Tembakau termasuk komoditas tanaman perkebunan dan merupakan tumbuhan khas dimusim kemarau. Tembakau banyak ditanam oleh petani –petani Wonosobo dan dibeberapa wilayah eks karisedanan Kedu. Bahwa menjadi hal yang umum, kemarau dan tembakau tidak dapat dipisahkan, seolah menjadi satu paket budaya-ekonomi musiman masyarakat.

Ada cerita menarik, tentang sisi lain musim tembakau yang berasal dari lereng pegunungan Dieng, tepatnya di Desa Mlandi Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo. Bapak Badrodin, seorang pria paruh baya berotot kekar nampaknya sedang kewalahan melayani pesanan
para pelanggan untuk “me-ngrajang-kan” daun tembakau mereka. Setiap musim kemarau antara akhir bulan Agustus hingga September, keahlian beliau banyak dicari oleh sesama petani tembakau baik yang berasal dari dalam maupun luar desanya. Beliau di juluki sebagai “Gobetman” yaitu seorang yang mempunyai keahlian “ngrajang” daun tembakau. Ngrajang adalah memotong daun tembakau pada wadah khusus yang terbuat dari kayu menggunakan pisau besar yang disebut dengan ‘pisau gobang atau gobet’. Proses ngrajang ternyata tidak sekedar memotong-motong daun tembakau, namun harus memiliki keahlian khusus.

Bagaimana tidak, tangan kanan memegang pisau gobet sedangkan tangan kiri digunakan menekan daun tembakau pada wadah kayu. Diperlukan keseimbangan dan kejelian antara kecepatan ayunan pisau gobet dan besar gaya dari tangan kiri dalam menekan gulungan daun tembakau.

Jika gaya tangan kiri terlalu besar, hasil sisiran tembakau akan menjadi terlalu tebal. Namun jika ayunan pisau gobet terlalu cepat, hasil sisiran daun tembakau yang terpotong menjadi sedikit dan terlalu tipis dan tangan kanan akan cepat lelah. Padahal berat pisau gobet sendiri hampir 1 Kg. Hasil “rajangan” berupa potongan-potongan daun tembakau berbentuk pipih, kecil seperti sisir rambut namun memanjang karena dipotong melintang dengan ketebalan berkisar 1-3 milimeter.

Bapak Badrodin sedang berkonsentrasi “ngrajang’ daun tembakau

Bapak Badrodin menekuni keahlian musiman tersebut selama hampir 34 tahun dengan rata-rata dapat menghasilkan sisiran daun tembakau 50 kg/hari. Adapun pendapatan beliau sebagai gobetman berkisar Rp 30.000-Rp 40.000 perhari. Beliau memperoleh keahlian sebagai gobetman, sewaktu bekerja di desa Kledung, Temanggung yang terkenal sebagai pusat tembakau di kawasan eks karesidenan Kedu.

“Kulo niku riyen kawet enom, empun boroh teng Kledung riko daerah Temanggung, seng kathah mbakone. Nopo maleh mangsa terang kados ngeten.  Kulo kaleh rencang-rencang boroh teng riko nderek majikane. Menawi carane riyen borongan, sinten seng paling kathah angsale ngrajang mangke upahe nggeh kathah”. (“Saya itu dulu semenjak muda sudah bekerja di desa Kledung sana daerah Temanggung, yang banyak tembakaunya. Apalagi musim kemarau seperti ini, Saya dan teman-teman bekerja disana ikut majikan. Sedangkan sistem kerjanya adalah borongan, siapa yang paling banyak hasilnya, gajinya juga banyak”), ucap Bapak yang mempunyai seorang anak terserbut.

Dimusim kemarau seperti saat ini, keahlian sebagai gobetman sangat membantu perekonomian keluarga beliau, mengingat hasil sayuran di ladang tidak begitu bagus karena tanaman banyak yang layu. Sementara itu, sebagai petani desa biasa yang hidup lereng pegunungan Dieng, beliau termasuk gigih dalam menyekolahkan putri semata wayangnya hingga lulus sarjana di Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo. “Enggeh niki putrine kulo sampun wisuda tahun wingking teng UNSIQ, saniki sampun dados guru agama teng Dusun Larangan Lor, kaleh buka les-lesan teng gyiro mrini. Alhamdulillah kulo tumut remen ilmune saget manfangat”(“Iya ini adalah putri saya sudah wisuda tahun lalu di UNSIQ, sekarang sudah menjadi guru agama di Desa Larangan Lor, sambil membuka bimbingan belajar di rumah ini, Alhamdulillah saya ikut bahagia ilmunya bisa bermafaat”) ungkap bapak paruh baya ini dengan raut muka yang penuh kesyukuran.

Keahlian sebagai gobetman semakin lama semakin berkurang, arus globalisasi menggiring generasi muda enggan meneruskan pekerjaan seperti itu. Terungkap asal-usul istilah “gobetman” berasal dari panggilan masyarakat sekitar terutama dari anak-anak muda atas keahlian unik dan langka tersebut. Dijelaskan oleh salah satu perangkat Desa Mlandi, Bapak Istangin, selepas acara penggalian potensi budaya di Balaidesa Mlandi tentang kearifan lokal yang juga turut mengundang Bapak Badrodin, bahwa gobetman merupakan pengistilahan profesi dalam bentuk apresiasi masyarakat dan anak muda terhadap keahlian beliau yang langka, terutama di desa Mlandi. Gobetman berasal dari kata “gobet” atau pisau gobet dan “man” artinya orang, maka arti secara umum adalah orang dengan keahlian menggunakan pisau gobet untuk ngrajang. “Desa Mlandi sendiri bukan sentra penghasil tembakau, karena memang komoditas utama adalah sayuran, sedangkan petani yang menanam tembakau hanya beberapa orang saja, sementara beliau (Pak Badrodin) mendapatkan keahlian tersebut dari pengalaman selama merantau ke Temanggung” sambungnya.

Itulah sepenggal kisah nyata nan menarik dari Desa Mlandi Garung Wonosobo. Bahwa setiap kondisi sosial ekonomi menyimpan beragam cerita masyarakat yang didalamnya terkandung makna perjuangan dan kekayaan budaya lokal.

Redaksi dan Penulis : Khusin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *