harianwonosobo.com

Media Sosial, Panggung Kedewasaan Berpikir Manusia Modern

Oleh : Mad Yahya (Aktivis HMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Sebelum era digital, panggung publik adalah tempat terhormat, hanya orang-orang terhormat yang perkataaannya dapat didengarkan khalayak. Kyai, ulama, musisi, dan tokoh-tokoh ternama saja yang dapat memegang mikrofon di depan ribuan orang. Baru kemarin, hingga sekarang kita dihadapkan kenyataan bahwa ibu-ibu rumah tangga, anak-anak SD, tukang bubur, bahkan para penjahat dan terorispun dapat berorasi di ‘panggung’ itu.

Hari ini siapapun dapat bersuara diatas ‘panggung’ itu, disaksikan ribuan bahkan jutaan orang. Bukan hanya dalam satu gedung, satu daerah, atau negara, bahkan dapat melintasi benua paling ujung dari dunia. Saat ini ‘panggung’ tersebut telah tersedia di gadget-gadget disaku kita, menjelma menjadi media sosial yang kita gunakan. Kini kita tidak perlu memegang mikrofon dan berteriak keras-keras agar perkataan kita dapat didengarkan banyak orang. Hanya perlu menggerakkan jari, ketik apapun yang terlintas di otak, lalu klik send agar cuitan kita dapat dilihat orang-orang diseluruh belahan bumi.

Sepertinya belum lama, baru beberapa dekade yang lalu. Dan kini dunia telah berubah drastis. Dahulu mungkin tidak pernah terbayangkan seseorang dapat mecacimaki, berkata kotor, dan ‘misuh-misuh’ di depan ribuan atau jutaan orang. Namun kini hal tersebut adalah kenyataan yang yang dapat kita jumpai sehari-hari. Kita dihadapkan pada fenomena yang benar-benar menguji kedewasaan kita.

Media sosial dan keterbukaan akses informasi benar-benar telah mengubah wajah dunia sekarang. Kita berada pada era dimana eksistensi seseorang bergantung pada seberapa lihai manusia memainkan jari di media sosial. Kerapkali opini massa lebih mudah tergiring karena kecurigaan dan prasangka dari kabar yang belum teruji kebenarannya di media sosial.

Era digital membuat banyak orang menginginkan segalanya serba instan, termasuk ketika menemukan informasi. Kerapkali orang-orang lebih mudah terprovokasi dengan berita yang sesuai selera mereka tanpa memverifikasi dan mencari kebenaran informasi yang didapatkan. Ibaratnya, media sosial telah mampu membungkus kebenaran dengan warangka kesesatan dan sebaliknya, selama banyak orang yang memberitakan, men-like, men-share orang lebih mudah percaya. Memang banyak sekali manfaat yang kita dapatkan dari media sosial, akan tetapi selalu ada sisi negatif yang sepadan dengan manfaatnya. Dan tidak semua orang menggunakan media sosial ini sebagaimana semestinya.

Tidak semua manusia era virtual sekarang siap dengan kenyataan yang dihadapinya. Banyak orang yang belum bisa mengendalikan diri dengan kemudahan akses media sosial.  Umpatan, komentar negatif, debat kusir, saling caci, bahkan berita hoaks adalah fenomena lumrah yang dapat dijumpai di media sosial. Padahal tentu mereka menyadari bahwa apapun yang mereka cuitkan di media sosial dapat dilihat oleh siapapun. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak semua orang dewasa ini mampu mengimbangi kemajuan teknologi dengan kedewasaan berpikir. Oleh karenanya, kita perlu menyaring dan mempertimbangkan betul apa yang akan disampaikan di media sosial.

Kemajuan teknologi saat ini tidak diimbangi dengan kedewasaan berpikir para penggunanya. Lebih dari sekedar alat berkomunikasi dan akses informasi, media sosial dijadikan alat propaganda, saling hujat, makian, dan menyebarkan konten-konten negatif. Media sosial telah menjelma bukan lagi sekadar media untuk saling bersosialisasi, akan tetapi menjadi objek untuk menumpahkan segala isi pikiran dan kekecewaan manusia-manusia modern. Oleh karenanya kesadaran untuk bersikap bijak dalam bermedia sosial sangat diperlukan manusia milenial sekarang.

Barangkali jika dahulu di sekolah-sekolah diajarkan mata pelajaran budi pekerti dan tata susila dalam masyarakat, sekarang mungkin perlu juga mata pelajaran etika bermedia sosial. Jika dahulu di pondok-pondok pesantren diajarkan adab kepada guru, orang tua, dan sesama manusia, mungkin santri-santri sekarang juga perlu diajarkan tentang media sosial beserta adab dan bagaimana berakhlaq dalam menggunakannya. Karena bagaimanapun juga kehidupan kita sekarang tidak dapat lepas dari media sosial dan teknologi.

Semoga kita dapat berdiri diatas panggung media sosial ini dengan bijak. Menyebarkan nilai-nilai positif, kebaikan, dan toleransi dengan anggun. Minimal kita menyadari betul bahwa apapun yang kita sampaikan di media sosial dan internet akan mendapat konsekuensi yang harus kita pertanggungjawabkan. Jika tidak di hadapan manusia ataupun hukum sosial, maka kita tetap akan mempertanggungjawabkannya di depan Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *