harianwonosobo.com

Narasi Radikalisme, Musuh yang Harus Diperangi

Ibarat sel kanker, radikalisme adalah penyakit yang dapat membunuh nasionalisme kita dari dalam. Tidak secara langsung melalui ancaman ataupun teror, mulanya radikalisme menjangkiti pemuda melalui cara berpikir, sebagai sumber utama tingkah laku manusia. Radikalisme menyerang cara berpikir pemuda melalui narasi sempit yang mengarah pada fanatisme kelompoknya. Radikalisme bukan hanya musuh kebangsaan, akan tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kemanusiaan. Pada kasus yang lebih serius misalnya, dengan sedikit disulut ghirah jihad, tidak segan para teroris bersedia meledakkan diri di hotel, bar, toko, atau fasilitas publik lainnya melalui serangkaian tindakan teror. Ajakan yang dibangun mengarahkan mereka untuk menghalalkan darah sesama manusia, membunuh orang-orang yang bagi mereka disebut mengikuti taghut.

Dalam upaya membangun narasi yang diperuntukan untuk para generasi muda, penyerabaran dilakukan melalui berbagai media. Selain diarahkan sebagai mediasi “kaderisasi maya”, pemuda dianggap belum memiliki kedewasaan dan kematangan berpikir sehingga mudah disusupi pemikiran radikal dalam beragama. Tidak hanya itu, pemuda memiliki potensi dan loyalitas yang lebih menjanjikan dengan idealisme yang mereka miliki.

Berdasarkan laporan data pada tahun 2017 oleh Badan Intelijen Nasional (BIN), tiga puluh sembilan persen mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia terpapar radikalisme. Selain itu, 23,3 persen pelajar SMA setuju dengan jihad demi tegaknya negara Islam di Indonesia ( www.cnnindonesia.com ). Tentu jumlah tersebut bukanlah jumlah yang sedikit yang jika dikalkulasikan secara kasar, dari 17,2 juta mahasiswa dan pelajar SMA Indonesia 5,3 juta diantaranya telah terpapar paham radikalisme. Hal ini sangat mengkhawatirkan ketika pemuda yang menjadi penerus estafet kepemimpinan Indonesia telah terkena ‘sel kanker’ radikalisme yang siap mengoyak keutuhan bangsanya sendiri.

Kekawatiran inilah yang menjadi musuh kita bersama dalam rangka menjaga keutuhan NKRI. Kita dihadapkan pada peperangan melawan narasi-narasi radikalisme yang dapat menyusup darimana saja. Tidak hanya melalui internet dan sosial media, radikalisme bahkan sudah lebih berani dengan membentuk harakah di kampus-kampus atau organisasi berwajah agama atau kegiatan sosial.

Radikalisme adalah musuh bersama seluruh bangsa Indonesia dan untuk mengatasinya diperlukan kesadaran dan kerja sama kolektif seluruh elemen bangsa. Tidak hanya pemerintah, akan tetapi LSM, ormas, lembaga pendidikan, hingga keluarga dan orang tua sudah saatnya turut andil dalam perang melawan radikalisme.

(Mad Yahya Aktivis HMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *