harianwonosobo.com

Saresehan Literasi oleh Akademisi dan Budayawan Wonosobo

Wonosobo banyak menyimpan kekayaan sumber daya alam, budaya dan kearifan lokal yang tinggi. Secara historis kawasan Wonosobo menjadi saksi bisu atas peradaban yang telah berkembang sejak era kerajaan Hindu-Budha. Peninggalan baik berupa norma -norma maupun bukti fisik sejarah atas perkembangan saat itu perlu dikaji secara mendalam dari berbagai disiplin ilmu.

Dalam upaya membangun semangat eksplorasi terhadap kekayaan budaya dan kearifan lokal telah dilakukan saresehan bertajuk “PEGUNUNGAN DI WONOSOBO DALAM BINGKAI KAJIAN ILMIAH” yang bertempat di cafe Shinfood Jl. Dieng km 6, Jawar, Mojotengah, Wonosobo. Saresehan dihadiri oleh Mas Farhan, budayawan muda Wonosobo yang aktif mengeksplorasi situs peninggalan kuno. Sebagai pembicara utama dihadiri oleh  Bapak Najmu Tsakib Ahda, aktivis pendidikan dari Garung yang tengah menyelesaikan studi S3 di PKP UGM.

Dalam diskusi tersebut di beberkan beberapa penemuan batu di area pekuburan kuno yang bernilai sejarah tinggi. Penemuan tersebut sama sekali belum tersentuh kajian secara akademis mengenai perkiraan umur, perkiraan era pembuatan dll. Diskusi semakin mendalam pada pembahasan pola persebaran dan strategi pembangunan desa pada zaman dahulu. “Proses pembangunan desa memerlukan strategi yang disesuaikan dengan pertimbangan SDA yang ada. Istilah cikal bakal pendiri desa menjadi seperti insiyur yang merancang skema pertumbuhan ekonomi secara mandiri” ungkap mas Farhan.

Aspek lain yang tidak kalah menarik adalah mengenai arsitektur candi di kawasan dataran tinggi Dieng yang kemungkinan besar dibangun tidak dalam satu fase kekuasaan. Hal ini terlihat dari gaya arsitektur dan motif ornamen yang berbeda-beda. Seperti candi Bima dan candi Arjuna dengan gaya arsitektur yang masih sangat kental dengan nuansa gaya candi India. Keduanya tersebut termasuk canti yang paling tua diantara candi lain yang terdapat di dataran tinggi Dieng. Diperkirakan kedua candi tersebut masuk dikategori periode Awal (Klasik Tua) yang dibangun sebelum 800 M.

Secara keseluruhan masih banyak hal-hal yang perlu diungkap baik eksplorasi budaya langsung maupun kajian literasi secara komprehensif. Semangat ini perlu terus dipupuk agar menghasilkan khasanah keilmuan yang terdokumentasi sebagai warisan berharga bagi generasi penerus selanjutnya.

(Khusin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *