harianwonosobo.com

PELAJAR DAN MAHASISWA DIRUNDUNG KEGALAUAN


Lama tidak mendengar suara mahasiswa dan pelajar, baru terdengar beberapa hari terahir ini dengan derita dan kabar buruk, mahasiswa dan pelajar mengumpat kekesalannya pada anggota dewan perwakilan rakyat. Mengkritik tanpa konntruksi kritik yang proporsional. Nalar kita kemudian diuji, ada apa dengan pelajar dan mahasiswa kita?

Pertama, kita mesti memahami dan mengkonstruksi ulang, kedudukan dan posisi mahasiswa dan pelajar hari ini. Jumlah generasi mahasiswa dan pelajar kini mencapai puncaknya. Usia muda ukuran pelajar SMA dan Mahasiswa sedang mencari identitas dan jati diri tentang diri dan identitasnya. Pertanyaanya, sudahkah kita memberi ruang bagi generasi muda (pelajar dan mahasiswa) untuk beraktualisasi penuh?

Sejak ruang gerakan mahasiswa di kampus di kooptasi oleh elemen dan kelompok tertentu, yang cenderung berpaham radikal, agenda mengembangkan kampus menjadi ruang kreatif dan inovatif mandeg. Ranah kampus menjadi jemu, karena ruang kreatifitas dihadapkan pada paradigma dan doktrin agama. Kegersangan ruang kreatif di kampus mendorong sebagian mahasiswa mencari jati diri di kerumunan masa di jalanan dan bahkan di ruang-ruang yang sesungguhnya kurang produktif. 

Kondisi ini tidak saja bertahan, namun dikontruksi oleh elemen tertentu, dengan jargon jihad, jargon perjuangan membela agama dan lainnya, yang menumbuhkan ketumpulan nalar kreatif dan kritis pelajar dan mahasiswa. Betapa sulitnya, menemukan generasi muda yang gemar membaca, berdiskusi, meneliti dan menulis yang sesungguhnya bisa memacu produktivitas dalam segala bidang. Apalagi pertanyaanya kemudian, berapa banyak pelajar dan mahasiswa yang menaruh minat pada riset (penelitian)? Kita akan sangat sulit menjawab. Wal hasil, kreativitas dan inovasi mahasiswa dan pelajar mandeg.

Kedua, pemerintah yang paling bertanggung jawab menyediakan segala fasilitas publik dan ruang, untuk mengembangkan kreatifitas dan inovasi generasi muda, misalnya dengan menyediakan berbagai ruang yang memungkinkan mereka mengakses segala fasilitas untuk mengembangkan potensi dirinya. Sayangnya, semua ruang untuk pengembangan diri pelajar dan mahasiswa cenderung berbayar mahal, misalnya saja lapangan futsal, ruang untuk bermain bola, yang boleh menjadi menjadi sangat asasi bagi tiap generasi muda, harus dikapitalisasi dan berbayar mahal. Lalu, anak muda yang tidak beruntung yang kebetulan juga uang pas, harus melarikan kesenangan futsalnya kemana? Itu juga mesti direnungi oleh banyak kalangan, khususnya pemerintah. 

Ketiga, bakat dan kreatifitas anak muda tidak diasah, karena ruang kompetisi tidak banyak disiapkan. Ajang lomba sepak bola, ajang lomba kreatif, ajang pengembangan bakat menulis, ajang lomba tari, gambar, dan juga kesenian lain mandeg, akibat tidak distimulus dengan program-program kreatif. Lagi-lagi ruang anak muda menjadi mandeg dan tidak mendapat tempat yang sesuai.

Tidak heran, pelarian segala bakat dan potensi itu, tidak disalurkan pada ruang yang tepat, tapi dijalanan, dengan meneriakkan yel-yel sambutan, yel-yel idealism dan segudang yel-yel, semata-mata membakar emosi yang kurang teraktualisasi. Kita semua butuh hadir melayani setiap generasi, yang muda kita beri ruang berkarya, berkreasi dan berinovasi, dengan sugudang pengalaman, kita meyakini segala potensi dan sumber daya tersedia untuk mengembangkan generasi muda. Tugas kita meleyani mereka dan memberi ruang seluas luasnya, jika dimungkinkan dengan dukungan anggaran dan biaya, untuk memastikan tiap generasi menikmati masa-masa hidupnya. Kita yang meyayangi Indonesia, tentu ingin menghadirkan ruang Indonesia yang bahagia dan unggul. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *