harianwonosobo.com

TERKAMAN TAJAM KABUT ASAP

Saat ini bangsa Indonesia di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, hingga Serawak penuh dengan selimutan kabut asap yang mengelilinginya, tentunya kabut asap menyebar luas di hampir seluruh daerah tersebut. Bagaikan terkaman hewan buas yang secara perlahan mampu membunuh sistem pernafasan  siapapun yang berada dalam terkamanya. Begitu banyak masyarakat Indonesia yang berada di dalamnya, dari bayi baru lahir, anak-anak, orang dewasa, orang tua, hingga lansia yang banyak dari mereka tidak tau menahu kesalahan apa yang membuat hal tersebut dilakukan. Apa penyebab datangnya kabut asap yang begitu banyaknya memenuhi berbagai sudut kota? Kebakaran Hutan? Lantas dari mana asalnya hutan terbakar? Musim kemarau yang panjang? Ulah oknum oknum tertentu? Bencana asap yang dilalui bangsa Indonesia saat ini bisa terjadi akibat dua jenis penyebab bencana asap. Yang pertama merupakan bencana asap ‘hibrida’ yaitu kombinasi antara campur tangan manusia dengan alam dan yang kedua adalah perbuatan manusia yang sepenuhnya. Berikut pemaparanya, asap kebakaran hutan dan lahan yang biasa disingkat ‘karhutla’, banyak pihak yang menyatakan bahwa belahan dunia sedang mengalami musim kemarau yang tinggi yang diperparah dengan adanya El Nino.

Apa itu El Nino? Menurut Muhammad Elifant Yuggotomo,S.Si El Nino merupakan fenomena memanasnya suhu muka laut di samudra Pasifik bagian tengah hingga timur.

Di Indonesia El Nino secara umum berdampak terhadap kondisi kering dan berkurangnya curah hujan. Nah maka jelas sekali peluang kebakaran hutan menjadi meningkat dan kabut asap semakin merajalela. Tentunya si El Nino tidak akan membawa api dengan sendirinya, kebakaran hutan yang terjadi dipicu oleh beberapa hal yang membuat timbulnya api. Diantara penyebab alam dan penyebab manusia tentunya partisipasi manusia proporsinya lebih tinggi, memang masyarakat zaman dulu sering membakar hutan untuk membuka lahan, namun jarang terdengar kasus kebakaran hutan besar –besaran dulu. Berbeda dengan saat ini majunya dan modern nya zaman justru bencana kebakaran hutan mulai sering terjadi. Buruknya tujuan tersebut dilakukan untuk pencetakan sawah, pertambangan, bangunan permanen sehingga semakin sering terdengar bencana kebakaran. Lantas apakah oknum yang membakar lahan tersebut tidak memiliki rasa kemanusiaan? Tidak memikirkan bagaimana kedepanya,bagaimana nasib masyarakat disekilingnya, makhluk hidup didalam hutan, karena kebakaran hutan yang berkepanjangan bukanlah terjadi pertama kali saat ini, namun dulu tahun 1997,2014 sampai saat ini 2019. Seharusnya kejadian yang pernah terjadi sebelumnya dijadikan pembelajaran untuk tidak melakukan hal yang sama pada tahun berikutnya, namun pada kenyataanya hal semacam ini masih terjadi hingga saat ini, tahun ini dan telah terjadi selama berbulan-bulan. Betapa sulitnya penanganan kebakaran yang mewabah, banyaknya kabut asap yang meluap, banyaknya korban yang terterkam buasnya kabut asap dan api. Baik dari manusia maupun dari makhluk lain khususnya hewan-hewan didalam hutan, pontang panting petugas pemadam kebakaran dan para masyarakat rewalawan mematikan api, melakukan cara agar kabut asap berkurang, menjalankan jiwa sosial kemanusiaan, meskipun begitu tampak upaya pemadaman yang dilakukan tak kunjung menuju penyelesaian karena penanganan dilakukan ketika titik api telah menyebar sehingga saat sebelah satu mati maka sebelah satunya lagi masih menyala dan sebelah yang telah mati tadi kembali menyala karena sambaran sebelah yang lain.

Sepertinya satu-satunya jalan menyelesaikan permasalahan kabut asap yaitu saat turunya hujan yang deras dan seharusnya saat hal ini telah tertangani sebagai masyarakat kita harus menjaga keutuhan lingkungan disekitar kita, karena apa, ketika saudara kita kesusahan maka kita semualah yang akan merasakan juga susahnya yang dilalui saudara kita ini, saat ini tanah air tak kunjung menurunkan hujan bagaikan manusia yang sudah tidak sanggup menangis, kita sebagai bangsa indonesia yang satu,bhinekatunggalika, walaupun kita berbeda-beda tapi kita tetap satu kita semua satu saudara ketika saudara yang satu kesusahan maka kita juga merasakan susahnya, untuk oknum pelaku pembakaran, sadarlah apa yang anda lakukan itu adalah tindakan yang sangat fatal, tindakan yang mampu menerkam masyarakat disekelilingnya, dimana jiwa sosialmu, dimana rasa kesatuan pancasilamu, untuk kita semua jangan sampai kita melakukan hal-hal fatal yang bisa menyebabkan perpecahan bangsa, yang melukai anggota masyarakat lain, tumbuhkan jiwa sosial kita, bantu masyarakat yang sedang kesusahan dengan sedikit sumbangan dan segelintir doa yang sangat berarti bagi mereka, mereka yang sedang krisis udara, selamatkan mereka, jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama, Allah maha mengabulkan doa-doa kita, diperlukan usaha untuk menjaga persatuan bangsa, yaitu kerja sama rakyat bangsa Indonesia sesuai ideologi bangsa yaitu pancasila. Adili oknum-oknum pelaku pembakaran hutan, agar mereka kapok dan tidak ada orang lain yang melakukan hal yang sama.

Mafitra Desyana Putri, Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Prodi DIII semester 1 asal Wonosobo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *