Perpustakaan Legowo, Membuka Akses Literasi Masyarakat Desa Menjer

perpustakaan legowo

Muda, energik, dan sederhana, itulah kesan pertama yang saya dapatkan dari sosok milenial ini. Suhat (panggilan akrabnya) merupakan sedikit dari pemuda desa asal Wonosobo yang mengabdikan diri di tanah kelahirannya dengan tidak hanya bekerja, tetapi juga memperjuangkan kesadaran literasi di daerahnya. Kerja kerasnya tidak sia-sia, bersama dengan pemuda Desa Menjer Suhat mendirikan Perpustakaan di Desa Menjer bernama Perpustakaan Legowo. Dedikasi dan inovasinya terus dikembangkan hingga Perpusatakaan Legowo mendapat berbagai pengakuan dan bantuan dari Perpustakaan Nasional. Dibalik penghargaan regional maupun nasional yang diterima Perpustakaan Legowo, Suhat dan pemuda Desa Menjer terus mengembangkannya sebagai pusat literasi bagi masyarakat desa.

Beberapa waktu lalu penulis berkesempatan mengunjungi alumni lulusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga ini di kediaman rumahnya di Desa Menjer, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo. Penulis juga berkesempatan mengunjungi Perpustakaan Legowo Desa Menjer dan berbincang-bincang banyak hal mengenai perpustakaan ini. Perpustakaan kecil yang terletak di tengah desa ini menyimpan banyak cerita perjuangan Suhat dan kawan-kawannya dalam memperjuangkan kesadaran literasi untuk masyarakat desa yang umumnya belum banyak memiliki kesadaran terhadap hal tersebut.

Suhat menceritakan, pendirian perpustakaan ini awalnya merupakan bentuk keresahan pemuda desa yang memiliki latar belakang akademis terhadap keadaan pemuda dan masyarakat Desa Menjer pada umumnya. Hal tersebut diperparah dengan minimnya akses baca buku di Desa Menjer. Atas dukungan dan kerjasama berbagai pihak termasuk respon positif dari pemerintahan desa, perpustakaan ini dapat didirikan. Suhat sadar, tidak banyak pemuda dan masyarakat desa yang memiliki kesadaran terhadap literasi, pada awalnya keberadaan perpustakaan ini hanya dipandang sebelah mata keberadaannya. Namun, atas kerja keras dan dukungan berbagai pihak, Suhat terus berinovasi dan mengembangkan Perpustakaan Legowo menjadi tempat yang menarik khususnya bagi para generasi milenial. Hingga akhirnya perpustakaan ini dikunjungi rata-rata oleh 50 orang perhari.

Perjuangan untuk menumbuhkan kesadaran literasi bukanlah waktu yang singkat, membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga masyarakat mau datang dan membaca buku di perpustakaan. Tidak hanya pemuda dan anak-anak saja yang memanfaatkan perpustakaan ini, saat ini orang-orang dewasa juga datang ke perpustakaan untuk mencari bahan bacaan yang mereka butuhkan seperti, buku ternak lele, buku pertanian, dan sebagainya. Seperti konsep perpustakaan milenialis yang tidak hanya menyuguhkan buku bacaan, perpustakaan ini juga menyediakan akses wifi public dan computer bagi pengunjung agar lebih betah di perpustakaan.


Melalui perpustakaan ini Suhat dan pengelola perpustakaan telah menyelenggarakan berbagai kegiatan kepada masyarakat seperti pelatihan computer, jurnalis, sosialisasi pentingnya pendidikan, dan sebagainya. Tidak hanya berhenti disana, melalui perpustakaan ini Suhat dan pengurus perpustakaan berencana untuk memberikan bantuan finansial serta bimbingan kepada para lulusan SMA sederajat untuk dapat menempuh Pendidikan di perguruan tinggi. Suhat bercita-cita pada tahun 2025 Desa Menjer memiliki ‘1000 sarjana’ melalui program ini. Meskipun belum dapat membantu secara penuh, paling tidak pemuda lulusan SMA di Desa Menjer dapat terbantu dalam awal proses pendaftaran di perguruan tinggi.

Suhat melalui Perpustakaan Legowo Desa Menjer membuktikan bahwa rantai kebutaan literasi masyarakat desa bukanlah hal yang musykil untuk diputus. Warisan apatisme generasi tua tentang literasi ‘memungkinkan’ untuk diubah. Namun, tentu dibutuhkan pikiran terbuka dan sikap afirmativ terhadap perubahan dan hal-ha baru. Tidak hanya itu, diperlukan orang-orang yang siap serta konsisten dalam proses perubahan itu. Bukan hal mudah, namun tentu diperlukan keberanian untuk memulai. Suhat membuktikan bahwa bangunan yang sebelumnya hanya kandang kambing dapat diubah menjadi nadi pengetahuan (perpustakaan) yang dikunjungi oleh 50 orang setiap hari. Semoga muncul Suhat-suhat lain di Wonosobo, khususnya di desa-desa yang jauh dari akses buku dan ilmu pengetahuan. (red: FY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DomaiNesia
Share via
Copy link
Powered by Social Snap