Petani Wonosobo Mulai Lirik Komoditas Labu Siam

Harianwonosobo.com. Wonosobo. Petani di Kabupaten Wonosobo khususnya yang terletak di kawasan kaki pegunungan Dieng mulai melirik potensi komoditas labu siam. Beberapa desa di Kecamatan Garung seperti Dusun Pring Apus, Mlandi, Menjer dan beberapa desa di sekitarnya mulai tertarik untuk menanam komoditas pertanian labu siam.

Labu siam atau jipang atau waluh (Sechium edule) merupakan jenis tumbuhan yang masih satu keluarga dengan labu-labuan (Cucurbitaceae) dan timun-timunan (Cucurbita). Labu siam termasuk jenis buah-buahan yang banyak ditanam oleh petani, pucuk dan buahnya dapat dikonsumsi. Tanaman labu siam tumbuh merambat ditanah, namun untuk tujuan komersil agar hasil optimal, para petani biasanya membuat pelanggrangan. Pelanggaran dibuat agar buah labu siam mudah dipetik dan mengoptimalkan hasil panen.

Potensi Komoditas Pertanian Jangka Panjang Di Wonosobo

Harianwonosobo memantau kondisi pertanian di kecamatan Garung khususnya bagian barat meliputi Dusun Pring Apus, Mlandi, Menjer dan beberapa desa di sekitarnya. Hasil penelusuran diketahui bahwa sebagian besar ladang warga di tanami labu siam. Bahkan di Dusun Dusun Pring Apus Tegalsari penanamn labu siamg hampir 70% dari total penduduk.

Hal tersebut menarik perhatian kami untuk sekedar mewawancarai beberapa petani daerah tersebut. Point –point hasil wawancara antara lain ;

  1. Labu siam termasuk komoditas pertanian yang cenderung tidak memerlukan banyak perawatan seperti cabai dan kentang. Perawatan relatif mudah dan praktis dibandingkan jenis komoditas cabai dan kentang.
  2. Memberikan waktu bagi tanah untuk rehat sejenak. Karakteristik tanaman labu siam adalah tidak diperlukan pengolahan tanah secara intensif, artinya sekali tanam cukup memberikan pupuk untuk menjaga nutrisi tanah dan obat hama. Kondisi ini akan memberikan waktu istirahat pada tanah dan berusaha untuk menetralkan kesimbangan nutrisi.
  3. Dapat dipanen 4-5 hari sekali setelah memulai masa usia panen, jika kondisi nutrisi tanah dapat dijaga dengan baik, panen akan berlangsung terus menerus hingga kurang lebih 5 tahun.
  4. Harga relatif stabil, harga tertinggi mencapai Rp. 3.000,- sampai Rp. 4.000,- perkg langsung dari petani mendekati bulan-bulan akhir ditahun 2019. Hal ini memberikan keuntungan yang sangat tinggi bagi petani.
  5. Distribusi labu siam bisa menjangkau hingga luar pulau jawa karena buah ini termasuk tahan busuk dan mampu menahan kandungan air dalam jangka waktu beberapa bulan. Bahkan jika kondisi buah tersebut sehat, buah ini jika dibiarkan akan muncul tunas sendiri untuk menjadi bibit baru.

Kondisi alam Wonosobo sangat cocok untuk dikembangkan berbagai komoditas pertanian dan perkebunan. Potensi tersebut perlu dukungan dari pihak-pihak terkait untuk meningkatkan daya saing dan pertumbuhan ekonomi daerah. (red:KH)

2 thoughts on “Petani Wonosobo Mulai Lirik Komoditas Labu Siam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DomaiNesia
Share via
Copy link
Powered by Social Snap