Rendahnya Daya Nalar Kritis Dan Analisis Siswa Indonesia

Oleh: Khusin,S.T.
Praktisi Pendidikan Eksklusif

Pada awal tahun 2019 bagi sebagian besar siswa sempat di hebohkan dengan perubahan besar sistem seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri. Mulai dari pihak penyelenggara yang semula merupakan panitia local kemudian diganti menjadi lembaga resmi dan permanen yakni Lembaga Tinggi Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Alur seleksi yang menggunakan sistem komputer serta yang paling menjadi penting adalah adanya level soal HOTS yang dimasukan pada soal ujian.

Banyak siswa yang panik dan merasa kesulitan mengerjakan soal-soal HOTS, akibatnya adalah persentase siswa yang lolos seleksi UTBK-SBMPTN di PTN turun drastis. Kepanikan dan kekawatiran sebagian besar siswa bukan tanpa alasan yang mendasar. Soal HOTS merupakan level soal C4 hingga C6 dimana diperlukan analisis lebih jauh untuk menjawab pertanyaan. Soal HOTS memberikan kompleksifitas yang tinggi dan kemampuan analisis untuk menghubungkan informasi – informasi pada soal terhadap teori yang telah diajarkan di sekolah. Biasanya pada satu soal saja terdapat  soal minimal 2 bab atau lebih sekaligus untuk menjawab pertanyaan soal.

Sebagai informasi levelisasi soal di klasifikasikan mulai dari C1 hingga C6. Soal tipe C-1 (mengingat), C-2 (memahami), C-3 (menerapkan), C-4 (menganalisis), C-5 (mengevaluasi) dan C-6 (kreasi).

Level C1 dan C2 termasuk tipe soal Low Order Thinking Skills (LOTS), C3 dan C4 termasuk tipe soal Medium Order Thinking Skills (MOTS) serta C5 dan C6 adalah tipe soal High Order Thingking Skills (HOTS). Adapula yang mengkategorisasikan tipe soal HOTS berada pada level C4 hingga C6.

Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 sebagian besar siswa Indonesia masih berfikir pada tingkatan rendah. Dengan kata lain siswa Indonesia sangat menguasai metode hafalan namun sangat lemah dalam hal analisis. Akibatnya mereka akan panik menghadapi bentuk soal lain yang tidak sesuai contoh atau yang belum pernah ia pelajari temui.

Dalam perspektif saya, kebiasaan menggunakan metode hafalan dalam pembelajaran akan melemahkan kemampuan analisis, berfikir kritis sehingga akan mengalami kesulitan mengerjakan soal soal tipe HOTS. Mungkin metode hafalan cukup efektif mengerjakan soal level C1 dan C2 namun jauh dari cukup untuk level soal C3 hingga C6.

Ketuntasan Kognisi Lebih Penting Dari Sekedar Nilai

Terlalu mengejar nilai hingga melewatkan esensi bahwa ketuntasan kognisi adalah lebih penting dalam proses pendidikan. Nilai adalah indikator berupa skor angka dalam range tertentu. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mengejar nilai, karena penentuan tingkat kepahaman siswa dapat diketahui dari pendekatan skor nilai. Namun menurut saya nilai belum cukup valid untuk merepresentasikan indikator ketuntasan kognisi.

Ketuntasan kognisi seorang siswa dapat diketahui melalui perubahan pola sikap dan pola pikir siswa setelah mendapat dan mempelajari suatu ilmu. Dalam kondisi ini informasi yang ia dapatkan akan tersimpan didalam otak hingga mempengaruhi pola nalar otak.

Saya sebagai praktisi pendidikan eksklusif, saya sendiri terus melakukan riset pribadi tentang kondisi dimana ketidakmampuan siswa untuk menemukan cara belajarnya sendiri dalam mengolah informasi. Dalam upaya ini saya menemukan pola yang hampir sama yaitu kesulitan siswa dalam menghadapi mata pelajaran eksak. Siswa biasanya akan merasa frustasi hingga pobia angka jika menghadapi mata pelajaran tipe eksak. Respon frustasi yang ditunjukan oleh siswa merupakan ketikakmampuan logika otak dalam memproses inputan yang masuk. Akhirnya syaraf-syaraf akan merespon dengan memberikan perintah kepada otak untuk menolak inputan tersebut.

Pendekatan dan Gaya Pembejaran Harus Diperbaiki.

Metode menghafal merupakan proses menyimpan dan mengingat informasi tanpa mengolah metodenya. Lawan makna dari pada tersimpan adalah terhapus, jadi metode menghafal cenderung mudah terlupakan oleh otak.

Saya mengambil sampel tentang mata pelajaran Matematika BAB Bangun Ruang. Meskipun beberapa buku paket telah menjelaskan secara sistematis proses mendapatkan rumus hingga bentuk yang paling sederhana.
Biasanya dalam menyelesaikan soal yang berkaitan dengan volume, siswa mengetahui rumus menggunakan metode hafalan. Pendekatan dan gaya mengajar ini perlu diperbaiki, saya membandingkan pendekatan metode hafalan dan metode analisis pada mata pelajaran Matematika BAB Bangun Ruang.

Perbandingan Metode Hafalan dan Analisis
(sumber: dokumen pribadi)

Pada kasus ini sebenarnya siswa tidak perlu menghafal rumus satu demi satu. Jika siswa tersebut telah tuntas pada BAB Bangun Datar (2 Dimensi), akan sangat mudah mempelajari BAB 3 Dimensi.

Sistem pembelajaran inilah yang perlu terus dikembangkan. Bahwa tidak ada yang salah atau benar dalam proses menuju perbaikan sistem. Tidak ada satupun sistem didunia ini yang benar-benar ideal. Yang perlu kita lakukan adalah spirit dan kesadaran untuk terus mengevaluai agar menuju sistem yang mendekati ideal sesuai fungsi dan proporsinya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DomaiNesia
Share via
Copy link
Powered by Social Snap